17 Mart 2012 Cumartesi

Laksamana Turki di Armada Cina: Cheng Ho (1371-1433)


Mehmet Özay                                                                                              2007

            Cheng Ho, seorang panglima laut dari ketujuh ekspedisi lautan. Jauh dari kisah pelayarannya, baru-baru ini legendaris Cheng Ho sedang diperbincangkan oleh para ilmuan kelautan maritim tentang kebenaran Cheng Ho yang telah menemukan Benua Amerika sebelum pelayaran Christopher Colombus.
            Khususnya, Gavin Mendies, berumur 67 tahun dan seorang pensiunan kapal selam mengungkapkan bahwa Cheng Ho telah menemukan Amerika sesuai dalam buku karangannya yang berjudul: “1421: The Year China Discovered America”
Institusi-intitusi dan pusat-pusat penelitian Cheng Ho telah dibangun hampir disemua negara-negara terkemuka. Namun kehebatannya Belum terdengar sepenuhnya oleh masyarakat Turki meskipun pada hakikatnya Cheng Ho adalah seorang keturunan asli Turki Uyghur dan juga seorang muslim.[1] Melalui tulisan kecil ini kami ingin sedikitnya memperkenalkan sosok Cheng Ho sebagai seorang figur penting bagi perjalanan sejarah pelayaran.

Keluarga
            Nama asli Cheng Ho adalah Ma Ho, versi Cina untuk panggilan Muhammad. Ia dilahirkan dalam keluarga muslim pada tahun 1371 di Kunyang-sekarang Jinning , profinsi Yunnan, Cina Tenggara.[2] Orangtua laki-lakinya bernama Hají Muhammad, dalam bahasa Cina disebut San-pao t’ai chien, yang artinya Qadi Muhammad.[3]

Pendidikan
            Ia ditangkap setelah invasi tentara Cina pada tanggal 12 Agustus 1382 dan dididik untuk menjadi seorang Kasim di pengadilan kekaisaran Cina.[4] Selama masa pendidikannya, ia mendapat kesempatan menjadi salah satu figur pemimpin yang melayani penguasa dinasti Ming, Yung-Lo. Untuk beberapa waktu ia juga bekerja sebagai Kasim di pengadilan ibukota, Beijing.[5] Ia melanjutkan sekolahnya ke universitas Nanjing Taixue.[6] Dua Tahun kemudian ia terpilih menjadi asisten Kaisar Yung-Lo. Bersama kaisar tersebut ia ikut serta dalam berbagai macam peperangan. Salah satu peperangan yang terjadi adalah ditargetkan untuk menjadikan Nanjing sebagai ibukota, Kaisar Yung-Lo menyadari kemampuannya dalam mengatur strategi peperangan dan kemudian memilihnya untuk menjadi seorang penasihat kaisar.[7] Sejak itulah, ia mulai dikenal sebagai Zheng He (Cheng Ho).[8]

            Penasehat dan Laksamana
            Selain menjabat sebagai kepala ajudan kaisar, Yung-Lo juga menganugrahkannya gelar kehormatan Cheng (Zheng). Beberapa saat setelah itu, Cheng Ho diangkat sebagai Laksamana  armada Cina.[9] Dengan mengepalai 7 pelayaran konvoi Cina antara 1405-1433, ia telah meletakkan kekaisaran Cina sebagai armada termegah yang pertama dan yang terakhir di lautan Asia dan samudra tanpa ada yang mampu menandingi.[10]
            Cheng Ho, Selama masa pelayaran tersebut, telah mengunjungi 37 negara dan bahkan mencapai setiap pesisir di Afrika Selatan. Sebelum pelaut-pelaut Eropa,ia telah mampu menjelajahi Tanjung Harapan[11]. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia juga telah mengelilingi Samudra Atlantik. Dalam semua pelayarannya ia telah menggunakan 317 kapal dengan ukuran yang berbeda beserta 37.000 laki-laki. Kapal harta Karun ‘Boachuan’ berukuran sekitar 122 metert dengan panjang 52 meter, dan lebar yang luar biasa. Keberadaan kapal raksasa ini memberikan gambaran tentang teknologi maritim  dan kecanggihan saat itu.[12]
Selama pelayaran ini, Cheng Ho ditemani oleh Sanbao, seorang designer peta yang telah berjasa akan perkembangan dunia kelautan.[13]
            2000 kapal telah dirakit dalam galangan kapal di Nanjing demi pelayaran tersebut yang terjadi antara tahun 1403-1419.[14] Tabel dibawah ini menunjukkan nama para laksamana, armada, penumpang, dan tanggalnya secara komparatif.[15]

  Nama            Tanggal                             Jumlah Kapal              Staff
Cheng Ho    (1405-1433)
Columbus         (1492)
Vasco da Gama (1498)
Macellan           (1521)
48 - 317
3
4
5
28.000
90
±160
265

            Armada kapal yang bergerak ke arah Samudra barat diawali dengan pelayaran dari ibukota negeri Cina, Nanjing. 3 dari konvoi tersebut telah direalisasikan selama masa pemerintahan kaisar ke-tiga dari Dinasti Ming. Selama masa ekspedisi laut ini, Cheng Ho telah berhasil menjejakkan kakinya di daerah-daerah sebagai berikut: (Aden (1418, 1421), Ormudz (1414, 1421), Semenanjung Arab (1418, 1421), Afrika Timar (1418, 1421), Dhufar (421).[16] Cheng Ho juga menyempatkan diri untuk melaksanakan kegiatan Hajínya ke Mekkah dalam salah satu pelayarannya.
Peta Kangnido telah digambar sebelum ia memutuskan berlayar dan diketahuilah bahwa Cheng Ho memiliki pengetahuan yang tinggi tentang Dunia Lama. Di bagian Samudra Barat, daerah-daeah jangkauan pelayarannya tercatat telah berhasil memasuki Sumatra, Arab, Laut Merah (sampai Mesir), pesisir pantai Afrika sampai perairan Mozambique dan Taiwán (7 kali).[17]
            Hal yang mengejutkan bahwa satu abad sebelum kedatangan Christopher Colombus di Amerika, Cheng Ho telah sampai terlebih dahulu disana. Ma Huan, sekretaris Cheng Ho yang juga seorang muslim mencatat segala hal yang berhubungan dengan ketiga pelayaran tersebut dan menerbitkannya dengan judul Ying-Yai Sheng Lan (keseluruhan surfey pesisir samudra).[18]

Cheng Ho di Aceh
            Beberapa pelabuhan yang digunakan sebagai pusat-pusat transit perdagangan penting seperti Pasai yang terletak di bagian utara pulau Sumatra telah cukup dikenal dalam catatan sejarah. Pelabuhan ini dihuni oleh berbagai ragam bangsa dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berurusan dengan bisnis perdagangan antara Cina(timur) dan Timur Tengah(barat).
            Pelabuhan ini dianggap sebagai pusat perdagangan dikarnakan situasi politik dan hasil kekayaan alam yang banyak dituntut oleh bangsa-bangsa lain di Eropa, Timur Tengah dan Cina.
            Selama masa dinasti Ming (1360-1643) di Cina terutama pada akhir abad ke-14 Masehi, Cina memiliki Angkatan laut yang tangguh. Saat itu Samudra Pasai dan Cina telah menjalin hubungan yang damai. Sebagai salah satu bukti kedamaian ini Penguasa kedua kerajaa ini telah saling mengirim Kapal dan Hadiah. Contohnya dengan kunjungan Cheng Ho ke Samudra Pasai sebanyak 3 kali, yakni pada tahun 1405, 1414, dan 1430.[19]
            Dalam salah satu kunjungan ini, Cheng Ho membawakan hadiah berupa lonceng besar sebagai persembahan dari Kekaisaran Cina kepada kerajaan Samudra Pasai. Lonceng tersebut telah dibawa ke Banda Aceh selama proses penaklukkan Samudra Pasai yang dilakukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan pertama kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1524.[20] Sejak saat itu, Masyarakat Aceh menamakan lonceng itu dengan Cakra Donya dan hingga saat ini, lonceng bersejarah tersebut masih dapat disaksikan di Museum pusat kota Banda Aceh.
            Selama kunjungannya yang ke-dua, Cheng Ho ikut menyaksikan konflik politik yang terjadi di Aceh saat itu. Kedatangan Cheng Ho kali ini telah tercatat dalam sejarah Dinasti Ming sekaligus dengan pertikaian dalam Kerajaan Samudra Pasai. Ketika perselisihan politik ini terjadi, Nahrasiyah, seorang putri Sultan Zainal Abidin, sedang berada dalam tampuk kekuasaan. Sekelompok pihak yang ingin menggulingkan pemerintahan Raja perempuan ini juga ikut menyerang Cheng Ho dan bawahannya. Akan tetapi masyarakat Samudra Pasai beserta rekan-rekan Cheng Ho mengadakan perlawanan dan berhasil menagkap Iskandar, pemimpim pemberontakan Samudra Pasai, dan membawanya ke Cina.[21]


            Kapankah Cheng Ho menemukan Benua Amerika?
            Menurut Gavin Menzies, Cheng Ho menemukan Amerika untuk memperlihatkan keberanian kekaisaran Cina dengan membawa 300 kapal yang menumpangi ratusan ribu laki laki selama masa Dinasti Ming.
            Menzies mengungkapkan bahwa Ho menemukan Benua Amerika dimana sebelumya telah jelas bagaimana kemantapan hati mereka dalam menjelajahi lautan dan kemudian para penemu-penemu lautan yang lainpun melakukan expedisi yang sama dengan bantuan peta yang mereka temukan tenggelam.[22]
            Khususnya, pada permulaan Orde baru, dengan kata lain, dalam proses menuju masa modern  bahkan akan terlihat begitu tak berharga jika membandingkan: keseluruhan kapal milik Christopher Colombus dan Da Gama apabila digabungkan maka dapat disimpan dalam salah satu dek dari satu kapal  armada pelayaran Cheng Ho.
            Armada-armada ini, terlepas dari apakah selama periode pemerintahan dinasti Ming, Benua Amerika ditemukan atau tidak adalah sesuatu yang signifikan dan mengejutkan jika kita pertimbangkan jumlah kapal, awak kapal dan jarak, dan juga memberikan deskripsi tentang kemajuan maritime kala itu.
Kesuksesan pelayaran-pelayaran ini tidak hanya penting untuk sejarah pada jaman dahulu, tapi juga sekurang-kurangnya untuk seratus ribu tahun mendatang. Bagi dunia barat, hal ini begitu penting demi tercapainya kebutuhan sumber penelitian dan sekaligus menjadi contoh bagi pelaut-pelaut Eropa.
            Sejak saat itu, peta-peta dan pelaut-pelaut Arab yang telah banyak menbantu pelayaran Eropa dianggap telah memberikan sesuatu yang berharga demi tercapainya makna akumulasi pengetahuan global .

Wafat
            Cheng Ho wafat ketika sedang berada dalam pelayarannya sekitar lautan India menuju Cina pada tahun 1433.[23] Oleh karma itu, di Nanjing telah dibangun sebuah pekuburan khusus untuk mengenang keberadaan Cheng Ho.[24]


Artikel ini diterbitkan di “Buletin Haba”, Sejarah Maritim, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh, 2007, No. 44, Hal. 43-46.


[1] Rozario, Paul, Zheng He and The Treasure Fleet (1405-1433)-, SNP Editions, Singapore, 2005, s. 36.
[2] Viviano, Frank, 2005, China’s Great Armada, National Geographic, July, p. 34-36; Leslie, Daniel, Donald, 1986, Islam in Traditional China: A Short Story to 1800, Canberra College of Advanced Studies, Australia, p. 85-108.
[3] Leslie,a.g.e., p. 108.
[4] Viviano, a.g.e., p. 36.
[5] Perkins, Dorothy 1999, Encyclopedia of China- The Essential Reference to China, its History and Culture-, Fitzroy Dearborn Publishers, Chicago, p. 621.
[6] http://www.en.wikipidia.com
[7] http://news.bbc.co.uk./go/pr/fr/-/2/hi/asia-pasific/4593717.stm
[8] SaudiAramco World, “The Admira Zheng He”, July/August 2005, p. 45.
[9] Chang, Yusuf Haji, ”A Ming Emperor well-kept secret”, Al-Nahdah-Muslim News and Views-, July/Desember 1998, Kuala Lumpur, p. 56.
[10] Hucker, O., Charles, 1975, China’s Imperial Past, Stanford University Press, Stanford, p. 291.
[11] Perkins, a.g.e., p. 621.
[12] Viviano, a.g.e., p. 35.
[14] Fairbank, King John, China- A New History-, 4th Edition, The Belknap of Harvard University Press, Cambridge.
[15] http://www. international.ucla.edu/print.asp?parentid=10387
[16] Gladney, C., Dru,1991, Muslim Chinese-Ethnic Nationalism in the People’s Republic, Council on East Asian Studies, Harvard University, p. 379.
[18] Hall, D.G.E., 1987, A History of South East Asia, 4th Edition, Macmillan Asian Histories Series, London, p. 103.
[19] Hadi, Amir’ul, 2004, Islam and State in Sumatra, A Study of Seventeenth Century Aceh-, Brill, Leiden, p. 17.
[20] Arif A., Kemal, 2006, Ragam Citra Kota Banda Aceh- Interpretasi Terhadap Sejarah, Memori Kolektif Dan Arketipe Arsitekturnya-, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, p. 113.
[21] Alfian, T., Ibrahim, Ratu Nahrasiyah, 1994, in Prominent Woman in the Glimpse of History (Wanita Utama Nusantara- Dalam Lintasan Sejarah), Ismail Sofyan, M. Hasan Basry, T. Ibrahim Alfian, (Ed.), First Edition, Jakarta Agung Ofset, p. 20.
[22] Menzies, Gavin, 2003, 1421: The Year China Discovered America, William Morrow, New York. p. 388.
[23] http://www.time.com
[24] Leslie, a.g.e., p. 108.

Hiç yorum yok:

Yorum Gönder