22 Temmuz 2012 Pazar

ULAMA TURKI DI ACEH: BABA DAUD


Dr. Mehmet Ozay*
                                                                   Kata Pendahuluan
Versi di pustaka manuscrip di Kuala Lumpur
 Meskipun sumber-sumber mengenai kelahiran dan kematiannya belum bisa terjangkau, kenyataab bahwa Baba Daud hidup antara pertengahan kedua abad ke-17 dan dekade pertama abad ke-18 adalah suatu hal yang sering dibicarakan. Nama asli Baba Daud yang lebih banyak dikenal dengan panggilan Baba Rumi adalah Baba Daud Bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali ar-Rumi*. Salah satu leluhurnya dipercayai telah sampai ke Aceh. Dan diyakini juga bahwa ibunya berasal dari Melayu berdasarkan sandaran pada nama Baba Daud, yaitu al-Jawi.

Jika kita ambil sebagai pertimbangan, Gurunya, Syeikh Abdurrauf as-Singkili hidup antara tahun 1615-1693 dan kembali ke Aeh setelah menyempurnakan pendidikannnya di Arab pada tahun 1661[1], maka besar kemungkinan bahwa Baba Daud hidup pada pertengahan kedua abad ke-17 dan permulaan abad ke-18.

Dalam halaman perkenalan Tafsir Baizawi disebutkan bahwa Baba Daud bernama lengkap Baba Daud Bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali ar-Rumi.[2] Referensi lainnya menyebutkan tentang keberadaan beliau sebagai murid seorang ulama terkenal, Syeikh Abdurrauf as-Singkili bernama Manzarul Ajla Martabatil A’la yang ditulis oleh Syeikh Faqih Jalaluddin, salah seorang murid dari Baba Daud sendiri.[3]

Mengenai keberadaan Baba Daud di Aceh, ada beberapa pendapat yang berbeda. Azra menyebutkan bahwa Baba Daud merupakan salah seorang tentara yang dikirim oleh pemerintahan Turki untuk melawan Portugis.[4] Berkenaan dengan hal ini, Abdullah Shagir, seorang tokoh Melayu modern, mengkritik ide tersebut dan menyajikan beberapa alternatif. Salah satunya adalah suatu kemungkinan bahwa Syeikh Ismail ar-Rumi, seorang pemimpin tariqat Qadiriyyah, yang dikirim dari Turki ke Aceh adalah ayah dari Baba Daud.[5]

Syeikh Baba Daud juga dikenal dengan panggilan Teungku Chik Di Leupu. Panggilan ini diberikan kepada Baba Daud karena ia adalah seorang pendidik di sebuah Dayah yang didirikan oleh Syeikh Abdurrauf as-Singkili dan Baba Daud sendiri di Leupu, kecamatan Banda Aceh. Syeikh Abdurrauf as-Singkili meminta Baba Daud untuk memimpin dayah tersebut. Baba Daud diakui sebagai seorang murid Abdurrauf as-Singkili yang terkemuka baik dikarnakan partisipasinya dalam mendirikan dayah di Leupu juga karena kontribusinya dalam menterjemahkan tafsir Baizawi.[6]

Disamping itu, Syeikh Abdurrauf as-Singkili memberikan al-quran yang ditulisnya dengan gaya kaligrafi istimewa untuk Baba Daud. Baba Daud kemudian memberikannya kepada Haji Yahya, generasi pemimpin dayah selanjutnya. Alquran tersebut dipegang dari generasi ke generasi. Dan Akhir-akhir ini, dikatakan bahwa tulisan tersebut berada ditangan Teungku Abdul Aziz Ujong yang menetap di Peunayong. Sesuai dengan pernyataann Ali Hasjmy bahwa ia pernah melihat langsung tulisan Syeikh Abdurrauf itu sendiri.[7] Drs. Mahmud Ika, salah seorang keturunan Syeikh Abdurrauf as-Singkili mengatakan bahwa ia memiliki satu fotokopinya dan ia juga menunjukkannya ketika penulis menemuinya.

Mengapa Baba Daud digelar sebagai Ar-Rumi
Untuk pertama-tama, terlebih dahulu kita memberikan penjelasan tentang asal kata Rum. Anatolia yang saat ini dikenal sebagai wilayah utama Turki, merupakan kawasan yang berada dibawah hegomoni kekaisaran Bizantium yang juga disebut Kekaisaran Timur Roma pada masa lalu. Masyarakat yang menduduki teritorial anatolia saat itu, di panggil sebagai orang Rum Sebelum pusat negara Saljuki dan Turki Usmani dapat menguasai wilayah ini. Oleh sebab itulah, mengapa Anatolia telah jauh dikenal sebagai daratan Rum. Disisi lain, Sumber-sumber Arab dan Persia memakai nama Rum untuk kekaisaran Bizantium dan Roma.[8]

Setelah Bangsa Turki Saljuki berhasil merobohkan Anatolia pada permulaan abad ke-13, bangsa Turki mendiami Anatolia dan kemudian masyarakat yang hidup disekitar wilayah ini mulai memanggil mereka dengan gelar Rum.[9]

Setelah Fatih Sultan Mehmed II (sang penakluk) berhasil menguasai Konstantinopel*, nama Rum mulai dipakai untuk golongan Turki. Oleh karena itu, telah menjadi suatu kebiasaan umum bangsa Turki dipanggil sebagai bangsa Rum, terutama mereka yang tinggal dikawasan Anatolia, tepatnya saat Turki Usmani berada pada puncak kekuasaan bagi seluruh dunia pada pertengahan kedua abad ke-15. kekuatan politik, ekonomi, dan budaya Turki Usmani juga mempengaruhi negara-negara Islam di dunia Melayu dan nusantara. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Melayu memanggil Sultan Turki Usmani sebagai ‘Raja Rum’ dikarnakan keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel.[10]

Sebagai hubungan antara Kesultanan Turki Usmani dan Kesultanan Aceh Darussalam, bangsa Turki lebih banyak datang mengunjungi Aceh dan mereka juga dipanggil dengan panggilan yang sama, tidak hanya oleh orang-orang Aceh sendiri tapi juga oleh penduduk di dunia Melayu. Azyumardi Azra mengatakan bahwa Raja Rum biasanya disebut-sebut dalam manuskrip Melayu sebagaimana yang tertulis berikut ini:“ ada narrasi istimewa yang ditransmisikan dari generasi ke generasi tentang kesultanan Rum dalam dunia Melayu. Pada masa dahulu, bangsa Arab dan Persia memiliki peran penting dalam hal penyebaran islam diwilayah ini. Bagaimanapun, tidak ditemukan informasi detail yang menyatakan Turki juga ikut ambil andil dalam periode islamisasi pada masa-masa awal.[11] (tanda petiknya berakhir dimana?)

Berdasarkan hasil penelitian kita bahwa alasan Baba Daud di sebut Ar-Rum karena leluhurnya berasal dari Anatolia, Turki. Argumen lain yang mendukung pendapat ini adalah Emperium, sebuah desa yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Alasan pemberian nama ini diketahui Sejak adanya pengunjung pertama yang berasal dari wilayah Turki pada abad ke-16. kata Emperium terdiri dari dua kata: ‘empe’ dan ‘rium’. ‘Empe’ berarti sebuah penghormatan. Sedangkan ‘Rium’, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, dipakai untuk sekelompok orang yang datang dari Anatolia. Maka, kata ‘Emperium’ mulai dipakai oleh masyarakat Aceh untuk mengekspresikan penghormatan mereka pada komunitas Turki di Aceh.[12]

Baba Daud: Seorang Ulama dan Tulisannya
Baba Daud merupakan salah seorang murid dan khalifah Syeikh Abdurrauf as-Singkili yang diakui sebagai tokoh agama terkemuka dalam kehidupan sejarah Aceh. Kepentingan Baba Daud sebagai seorang Ulama besar dapat dilihat dari kontribusinya dalam mendirikan Dayah Manyang Leupue bersama-sama dengan Gurunya.[13] Disamping itu, Baba Daud juga mencurahkan jasanya dalam penulisan tafsir alquran dan tafsir Melayu pertama yang dipakai oleh as-Singkili sebagai referensi utama penulisan Tafsir Bayzawi. Buku tersebut berjudul Turjumanul al-Mustafid yang telah berperan penting dalam peningkatan pemikiran Islam didunia Melayu. Aspek menarik lainnya hádala tafsir ini pertama kali diterbitkan di Instanbul.[14]

Cetakan asli tulisannya dapat ditemukan pada salah satu cucu Baba Daud yang berkediaman di Patani yang kemudian dipindahkan kepada Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Patani. Karya tulis ini telah diterbitkan berkat bantuan Syeikh Ahmad al-Patani. Berdasarkan penuturan keturunan-keturunan Baba Daud bahwa ada beberapa karya lainnya yang dikarang oleh Baba Daud sendiri. Akan tetapi hingga kini Belum ada data-data konkrit yang dapat ditemukan. Karya tulisan tangan Baba Daud tersebut disalin kembali oleh Syeikh Daud bin Ismail al-Patani, salah satu keturunannya yang juga dikenal sebagai Tok Daud Katib. Tulisan tersebut diwasiatkan kepada sepupunya, Syeikh Ahmad al-Patani yang kemudian ditulis kembali oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Patani, Syeikh Daud bin Ismail al-Patani dan Syeikh Idris bin Husein Kelantan. Edisi pertama diterbitkan di Istanbul, Mekkah, dan Mesir. Ketiga pemuka agama tersebut juga melakukan beberapa koreksi pada karya tulis asli Baba Daud.[15]  
   
Baba Daud, tak hanya mengkontribusikan hasil karya tulis gurunya, Syeikh Abdurrauf as-Singkili tapi juga menulis hasil karyanya sendiri. Salah satu tulisannya yang terkemuka adalah Risala Masailal li Ikhwanil Muhtadi yang telah dijadikan sebagai buku pedoman utama tak hanya di Aceh[16] tapi juga di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailan dimana semua negara ini dulunya saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Melayu selama kurun waktu 300 tahun terakhir.[17] Buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawi dan tehnik tanya-jawab ini telah diakui sebagai salah satu cara terbaik untuk mengajarkan pengetahuan agama dasar bagi murid-murid yang tidak mengenal bahasa Arab. Buku ini juga menampilkan beberapa mata pendidikan yang berlainan seperti Akidah, Ibadah, dan lain sebagainya tanpa ada perubahan sedikitpun.[18] Disamping itu pula, ajaran-ajaran dalam tulisan Baba Daud ini telah pernah pula melingkari kegiatan kegamaan di Masailal Muhtadin telah berperan banyak dalam pembentukan karakter keagamaan murid-murid di wilayah tersebut.

Sepanjang karirnya, Baba Daud juga dikenal sebagai seorang guru dan banyak orang-orang penting yng memilih untuk menjadi muridnya. Salah satunya adalah Nayan Baghdadi, anak dari Al-Firus al-Baghdadi, pendiri Dayah Tanoh Abee.[19] Nayan Firus al-Baghdadi menjalani satu fase pendidikannya di Dayah Leupu Peunayong, sebuah dayah terkemuka di Aceh saat itu dan Baba Daud yang bergelar sebagai Teungku Chik di Leupu adalah salah satu guru pengajarnya. Setelah menyempurnakan pendidikannya disini, Baba Daud menganjurkannya untuk kembali ke Seulimeum dan mendirikan sebuah pusat kegiatan pendidikan disana.[20] Selain Nayan Firus al-Baghdadi, Syeikh Faqih Jalaluddin juga tercatat sebagai salah seorang murid Baba Daud lainnya yang popular.[21]
           
Makam Baba Daud
Saya mendapat informasi awal mengenai Baba Daud ketika datang pertama kali ke Aceh antara September hingga Desember, tahun 2005 dan menetap disana selama 3 bulan. Salah seorang teman membimbing saya untuk melihat makam seorng ulama bernama Baba Daud. Makam tersebut terletak berdekatan dengan lokasi Mesjid di Leupu, Peunayong (nama wilayah sebenarnya). Karena tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang Hebat diterjang Tsunami, kondisi makam tersebut juga menjadi tak layak. Disekeliling makam ini, terdapat beberapa fasilitas kontruksi yang dibangun oleh LSM-LSM asing. Meskipun begitu,  lingkungan masyarakat dengan inisiatifnya sendiri memutuskan untuk meletakkan pagar disekeliling makam tersebut dengan polesan tulisan, “ Makam Ulama Aceh. Anak Murid Tgk. Syiah Kuala.” Agak jauh dari makam tersebut terdapat sebuah toko pertukangan kayu. Tampaknya kita masih dapat mengenal makam Baba Daud berkat kontribusi sebagian orang yang Belum melupakan jasa-jasanya dimasa-masa yang lalu.

Keturunannya
Tidak Diketahui apakah ada atau tidak keturunan Baba Daud yang masih hidup di Aceh saat ini. Bagaimanapun, seorang pemuka agama yang terkenal, Syeikh Daud bin Ismail al-Jawi al-Patani yang menetap di Patani, bagian selatan Thailan, diperkirakan sebagai salah seorang keturunanya. Haji Nik Wan Fatma binti Haji Wan Abdul Kadir Kelantan bin Syeikh Daud bin Ismail al-Patani (Kak Mah) yang disebut-sebut sebagai keturunannya yang lain telah menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Senin, 26 Juli 1999, di Kota Baru Kelantan.[22] 


*Dosen di UTM, Malaysia.
*Ali Hasjmy menyebut nama lengkap Baba Daud dengan menambahkan Ali sebagai pengganti dari al-Jawi sebagaimana yang tertulis berikut, ”Syeikh Daud Bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali ar-Rumi”. Lihat: Hasjmy, Ali, 59 Tahun Aceh Merdeka, Bulan Bintang, Cakarta, 1977, hlm. 117. Sedangkan versi yang diberikan oleh Azyumardi Azra adalah “Daud Al-Jawi Al-Fansuri bin İsmail bin Agha Mustafa bin Agha Ali Al-Rumi”. Lihat juga Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama -Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII-, Penerbit Mizan, Cetakan Pertama, 1994, hlm. 211.
[1]Hadi, Amirul, Islam and State In Sumatra  -A Study of Seventeenth Century Aceh-, Brill, 2004, hlm. 158
[2]Hamka, “Sebab Aceh Serambi Mekkah”, Seminar Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Aceh Dan Nusantara, s. 4; Abdullah, Shagir, Khazanah Karya, Jilid 1, 1991, hlm. 160.
[3]Abdullah, Shagir, Penyebaran Islam Dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, Cilt 5, Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniyah Kuala Lumpur, 1999, hlm. 24.
[4]Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama -Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, hlm. 211.
[5]Abdullah, Shagir, Penyebaran Islam Dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, hlm. 24-5.
[6]Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama -Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Penerbit Mizan, 4. Baskı, 1998, hlm. 211.
[7]Hasjmy, Ali, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Cakarta, 1983, hlm. 218.
[8]Reid, Anthony, An Indonesian Frontier -Acehnese and Other Histories of Sumatra-, Singapore University Press, Singapore, 2005, s. 69.
[9]Mersinli, Cemal, ‘Roma-Rum Kelimeleri’, TTK Belleten, V. Cilt, No. 17-18, April, 1941, Ankara, hlm. 160.
*Nama Konstantinopel diberikan sebagai nama kota karena kaisar Bizantium yang berkuasa saat itu bernama Konstantin. Nama ini merupakan nama lama kota Istanbul. Bahkan selama masa kerajaan Turki Usmani, nama ini juga dipakai oleh orang-orang Turki. Kemudian nama tersebut diubah menjadi Istanbul. Pemakaian nama Konstantinopel dapat ditemui dalam beberapa buku atau teks yang ditulis pada abad ke- 19 juga.  
[10]Azra, Azyumardi, The Transmission of Islamic Reformism To Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ In The Seventeenth and Eighteenth Centuries, Dissertation in the School of Arts and Sciences Columbia University, 1992, hlm. 103; Göksoy, İ. Hakkı, Güneydoğu Asya’da Osmanlı-Türk Tesirleri, Fakülte Kitabevi, Isparta, 2004, hlm. 11.
[11]Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama -Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Penerbit Mizan, 4. Baskı, Bandung, 1998, hlm. 45.
[12]Özay, Mehmet, Açe Kitabı, Fide Yayınları, İstanbul, 2006, hlm. 111.
[13]Hasjmy, Ali, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Cakarta, 1983, hlm. 382.
[14]Abdullah, Sagir, Penyebaran Islam Dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, hlm. 16; Amiruddin, M. Hasbi, The Response of the Ulama Dayah -to the Modernization of Islamic Law in Aceh-, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, 2005, hlm. 13.
[15]Abdullah, Sagir, Penyebaran Islam Dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, Cilt 5, Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniyah Kuala Lumpur, 1999,  hlm. 16.
[16]Hasjmy, Ali, Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, hlm. 81.
[17]Hasjmy, Ali, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Cakarta, 1983, hlm. 218.
[18]Hasjmy, Ali, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, s. 382; Amiruddin, The Response of the Ulama Dayah -to the Modernization of Islamic Law in Aceh-, hlm. 39.
[19]Hj. Wan Mohammad Shaghir Abdullah, Penyebaran Islam dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, Cilt 7, Siri Ke-8, Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1999, hlm. 2.
[20]Hasjmy, Ali, Ulama Aceh, Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamadun Bangsa 1997, hlm. 4.
[21]Abdullah, Shagir, Penyebaran Islam&Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, Cilt 6, hlm. 41. 
[22]Abdullah, Shagir, Penyebaran Islam Dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu, Cilt 5, hlm. 26-7.

Hiç yorum yok:

Yorum Gönder