Mehmet Özay 20.08.2026
Saat Republik Indonesia merayakan hari kemerdekaan ke-81 pada tanggal 17 Agustus, penting juga untuk mengingat individu-individu yang telah mengabdikan hidup mereka demi kemerdekaan negara.
Di antara mereka adalah Haji Mohammad Said, seorang tokoh kunci. Titik awal artikel ini didasarkan pada peringatan 120 tahun wafatnya Haji Mohammad Said. Saya percaya ini adalah momen untuk mengenang beliau lagi karena hari ulang tahunnya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik. Sebagai pendiri surat kabar ternama, ‘Waspada’, beliau memiliki kisah hidup yang unik yang dibentuk oleh semangat zamannya. Dalam tulisan ini, saya berfokus pada beberapa isu yang menurut saya membentuk karya seumur hidupnya sebagai seorang jurnalis-intelektual.
Dalam memoarnya yang belum diterbitkan, ia menyatakan bahwa ia lahir pada tanggal 17 Agustus 1905 di Labuhan Bilik, Kabupaten Labuhan Batu. Kota kecil ini terletak di dekat Sungai Panai di pesisir Sumatera Utara, menghadap Selat Malaka, dengan pelabuhan bernama sama. Nama ayahnya adalah Mohammad Hasan, yang biasa dipanggil Haji Hasan. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Makalah singkat ini berfokus pada percakapan singkat namun bermakna antara Haji Hasan dan putranya yang masih muda, Muhammad Said, pada tahun 1930-an.
Apa kata ayahnya?
Sebelum membahas beberapa elemen dari kiprah jurnalistik dan intelektualnya, saya ingin mengingatkan Anda tentang sebuah kejadian yang sangat menarik yang terjadi tepat setelah percakapannya dengan ayahnya. Suatu hari, ketika Mohammad memberi tahu ayahnya bahwa ia ingin pergi ke Medan dan menjadi jurnalis, wajah ayahnya berubah menjadi muram. Wajar jika ia menerima teguran ayahnya, seperti, "Apa yang akan kamu lakukan di bidang jurnalistik?" Lagipula, munculnya berbagai penyalahgunaan sepanjang sejarah media cetak, dari awal hingga saat ini, mengingatkan kita bahwa Ayah Said telah menyaksikan atau mendengar tentang penyalahgunaan serupa. Menurut saya, meskipun Said tidak menolak keberatan ayahnya, jelas bahwa ia tidak sepenuhnya menerimanya dan tidak meninggalkan niatnya. Bisa dibilang Mohammad Said telah menafsirkan pesan ayahnya dengan benar dan mengingatnya sepanjang karier jurnalistiknya, dari masa magang hingga mencapai puncak karier.
Said, dengan mengambil keraguan ayahnya sebagai pelajaran, mengadopsi pendekatan yang memprioritaskan kebenaran dan keadilan dalam jurnalisme sejak awal kariernya. Saya percaya hal ini dipengaruhi oleh pengalamannya di sebuah firma hukum Belanda di Sumatera Utara, tempat ia menyaksikan korupsi, pelanggaran hukum, dan perlakuan yang tidak manusiawi. Dengan kata lain, saya pikir pengalaman Mohammad menyaksikan perlakuan buruk dan penindasan terhadap pekerja di perkebunan di berbagai wilayah Sumatera Utara selama bekerja di kantor Belanda tersebut berperan dalam transformasi dirinya menjadi seorang aktivis. Mengingat kondisi saat itu—tidak seperti sekarang, ketika elemen untuk membangun organisasi aktivis masih belum berkembang—jurnalisme mungkin satu-satunya media yang memungkinkan dia mempraktikkan konsep-konsep seperti masyarakat, keadilan, dan kebenaran. Dalam hal ini, meskipun ia mungkin mengakui keabsahan penilaian ayahnya tentang jurnalisme, idealisme Mohammad tetap unggul, dan pada akhirnya ia melihat jurnalisme sebagai lebih dari sekadar profesi.
Era yang penuh tantangan
Patut dikemukakan bahwa Mohammad Said hidup dalam masyarakat yang berkembang pesat pada awal abad ke-20. Seiring dengan itu, pemikiran sosial dengan cepat menjadi terideologikan, yang pada dasarnya berakar pada pandangan dunia lokal. Pandangan dunia lokal ini juga diperkaya oleh kontribusi beberapa aktor asing dan, terutama, individu-individu lokal terdidik yang memiliki akses terhadap pemikiran sosial Barat yang sebagian besar berkembang di Eropa Barat pada abad ke-19.
Merupakan momen bersejarah yang menarik untuk menyaksikan awal karier jurnalistiknya pada tahun 1930. Ia menunjukkan beragam minat intelektual dalam jurnalisme, politik, ekopolitik, sejarah, dan kolonialisme. Tak diragukan lagi, ciri khas awalnya adalah patriotisme yang kuat, dengan respons langsung terhadap rezim kolonial yang dialaminya pada masa mudanya. Aktivitasnya di berbagai bidang menunjukkan inspirasi patriotik yang sama sepanjang hidupnya. Ini adalah kecenderungan umum yang disebut 'semangat' di kalangan pemuda pada tahun 1920-an, 30-an, dan 40-an, dan hal itu mendorong gerakan kemerdekaan di hampir seluruh wilayah Kepulauan Sumatera. Tulisan-tulisannya, baik esai surat kabar maupun buku-bukunya, tak diragukan lagi merupakan tambang emas data sejarah. Keaslian karya-karya ini sebagian besar bergantung pada pengamatannya dan perannya sebagai saksi saat ia tumbuh dan matang dalam pekerjaannya sebagai jurnalis di Sumatera Utara. Lebih jauh lagi, ia menunjukkan rasa ingin tahu dengan mengutip sumber yang tepat dalam bahasa apa pun, serta menggunakan kemampuannya untuk menemukan kebenaran dan menerangi publik. Sebagai seorang intelektual otodidak, ia secara konsisten menekuni jurnalisme cetak, seperti yang terlihat dalam karyanya dan usahanya pada tahun 1947, ketika ia bersama istrinya, Ani Idrus, menerbitkan surat kabar harian ‘Waspada’; ia juga membela para buruh yang bekerja di berbagai perkebunan di pesisir Medan, dan lain sebagainya.
Etika dan kebenaran
Ia, seperti yang ia catat dalam memoarnya yang belum diterbitkan, berhati-hati dalam pekerjaan jurnalistiknya dan menyesuaikan diri dengan kondisi kolonial tanpa mengorbankan pendirian etis maupun kesadaran politiknya. Bahkan, hal ini selaras dengan prinsip-prinsip yang ia peroleh melalui bacaan dan keterlibatannya dalam perkembangan sosial. Dan saya percaya bahwa ayahnya juga telah berkontribusi, sampai batas tertentu, dalam menanamkan nilai-nilai etika yang penting dalam dirinya.
Perjuangannya untuk mengatasi inersia, yang sangat ia rasakan, adalah massa yang buta huruf. Usaha medianya bertujuan untuk mencerahkan mereka melalui logika rasional dan kebenaran, yang berlandaskan pada isu dan perkembangan historis dan kontemporer. Ia adalah anggota yang terlihat dalam komunitas jurnalisme karena membahas isu-isu buruh dan wacana kemerdekaan. Ia muncul sebagai jurnalis dan intelektual pada periode prakemerdekaan dan selama sejarah revolusi Indonesia.
Dapat dikatakan bahwa ketiga minat intelektual utama ini memiliki satu titik temu: kolonialisme. Dalam hal ini, kolonialisme, atau kondisi kolonial, secara signifikan membentuk wacana intelektualnya, yang ia coba atasi melalui berbagai cara, baik secara nyata maupun tidak nyata, sepanjang hidupnya. Ia mengembangkan perspektif analitis dan interpretatif yang mendalam tentang isu-isu historis dan kontemporer, seperti buruh, perang kolonial, dan proses Islamisasi. Isu buruh merupakan tema penting yang menarik perhatian global pada dekade awal abad ke-20. Ia berupaya membangun kerangka acuan baru untuk membangun kesadaran kolektif. Untuk mencapai hal ini, ia menggunakan usaha jurnalistiknya sebagai wahana untuk membangun kekuatan publik demi perubahan. Memang, wawasan jurnalistik dan intelektualnya didorong oleh pengamatannya terhadap apa yang terjadi di sektor perkebunan tempat para kapitalis mempekerjakan buruh. Ini termasuk lembaga administrasi kolonial, kapitalis swasta, atau keluarga penguasa pribumi. Sejak saat itu, ia secara implisit (saya kira) dan secara eksplisit mencoba berada di sisi yang benar pada pendulum keadilan. Melalui tulisan-tulisannya tentang berbagai subjek, ia menyadarkan masyarakat akan isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari—karyanya juga penting untuk memahami bagaimana aktor-aktor sipil dan resmi tertentu memicu perubahan sosial.
"Intelektual Organik" dan Bangsa
Prof. Budi Agustono berpendapat bahwa ia adalah seorang "intelektual organik," merujuk pada Antonio Gramsci, yang merupakan klaim yang kuat. Dalam hal ini, konsep 'organik' dapat merujuk pada orisinalitas (asli) dalam arti yang lebih luas, sekaligus menekankan keaslian yang tidak dibentuk oleh lingkungan sekolah yang sudah mapan.
Orisinalitas
Muhammad Said juga terletak pada kaliber intelektualnya yang konsisten. Tidak
seperti aktivis politik lainnya, ia tidak berupaya menjadi politisi atau
akademisi. Ia tetap terikat pada jurnalisme dan berkontribusi kepada publik
melalui tulisannya. Dalam hal ini, orang dapat menduga bahwa orientasi
intelektualnya adalah menjangkau masyarakat umum melalui jurnalisme—yang
tampaknya menjadi norma baginya—dengan menyoroti peristiwa dan tokoh sejarah.
Ia dikenal tidak hanya sebagai jurnalis tetapi juga sebagai sejarawan amatir atau publik. Ini tidak mengherankan, mengingat sejarah panjang dan menonjol dari kepulauan tersebut. Alasan lain ia mengembangkan minat pada sejarah adalah sikap nasionalistiknya. Hal ini dikembangkan sebagai respons terhadap realitas politik, seperti 'kondisi kolonial' yang ia saksikan dan alami semasa mudanya. Dalam pengertian Weberian, saya berpendapat bahwa nasionalisme harus dianggap sebagai sebuah tipologi. Karena merupakan ideologi tandingan terhadap pemerintahan kolonial Barat, nasionalisme hampir menjadi norma, baik keagamaan maupun sekuler. Ini menunjukkan bahwa Muhammad Said memahami peran sejarah dalam membangun negara-bangsa yang kuat melalui gerakan kemerdekaan, bahkan sejak masa mudanya.
Di luar artikel-artikelnya tentang urusan politik sehari-hari, regional, dan nasional, ia secara konsisten menulis tentang perkembangan sejarah, khususnya setelah tahun 1960-an. Patut dipertanyakan apa yang mendorongnya untuk beralih ke sejarah sebagai bidang ekspresi diri. Saya pikir salah satu alasan utamanya adalah karena ia hidup pada era pergolakan sosial-politik di awal abad ke-20. Periode pemerintahan kolonial Belanda ini, bersamaan dengan invasi Sekutu ke Sumatera Utara, kemungkinan memberinya wawasan tentang pentingnya manusia dan wilayah, dan bagaimana unsur-unsur tersebut berpadu di berbagai tahapan sejarah.
Singkatnya,
dapat dikatakan bahwa kemampuan dan proses berpikirnya yang dianugerahkan
Tuhan, didorong oleh kesuksesannya yang luar biasa, membuatnya mampu memahami
urusan sosial di sekitarnya secara unik, termasuk sikap antikolonialnya yang
diungkapkan melalui wacana dan aktivitasnya, yang berlandaskan perspektif
nasionalistik yang kuat. Ia membantu mendekolonisasi sejarah Kepulauan, dimulai
dari urusan Aceh, seperti Perang Belanda di Aceh. Lebih jauh lagi, dalam hal
ini, wacana beliau—dengan pendekatan dan wacana serupa yang diadopsi oleh
jurnalis dan intelektual sejenis—sangat berharga untuk memahami dekolonisasi
kesadaran sejarah di Indonesia dan dunia Melayu yang lebih luas.
Waspada, Opini, A5.

Hiç yorum yok:
Yorum Gönder