Mehmet Özay 26.09.2026
TANJUNG PINANG, 26 September 2026 — Perhelatan International Conference on the Strait of Malacca (ICSM 2026) yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) menghadirkan perspektif akademis mendalam mengenai masa depan tata kelola maritim kawasan. Cendekiawan, sejarawan, dan sosiolog, Assoc. Prof. Dr. Mehmet Özay, dalam pemaparannya, menekankan pentingnya merevisi cara pandang dunia terhadap Selat Malaka. Menurutnya, Selat Malaka tidak boleh sekadar dipandang melalui kacamata geopolitik sempit atau titik sumbat (choke point) perdagangan semata, melainkan sebagai ruang bertemunya kebudayaan, kearifan lokal, dan peradaban dunia.
Dalam
forum internasional bertema "Assessing the Future of the Strait of
Malacca: IMO Global Regulations, Blue Economy, and the Existence of Marine and
Coastal Indigenous Peoples". Assoc. Prof. Dr. Mehmet Özay adalah
seorang sejarawan, sosiolog, dan akademisi asal Turki yang mengajar serta
meneliti di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM),
Kuala Lumpur, Malaysia. Menyelesaikan pendidikan doktoralnya (S3) dalam bidang
Sosiologi Agama di Marmara University, Istanbul, Dr. Özay dikenal luas atas
kontribusinya dalam mengkaji peradaban Dunia Melayu, sejarah Nusantara, serta
relasi historis, geopolitik, dan kebudayaan antara wilayah Samudra Hindia dan
Kesultanan Utsmaniyah. Sebagai pengarang buku terkemuka seperti Açe
Darüsselam Sultanlığı (2018), ia aktif meneliti dinamika sejarah sosial,
modernisasi, dan hubungan internasional masyarakat Muslim. Selain menjadi
peneliti dan penulis produktif di berbagai media internasional dan nasional
(seperti Politics Today dan Waspada), Dr. Özay juga kerap
memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia,
termasuk di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan dan UIN Sumatera Utara.
Membuka
paparannya, Dr. Özay membagikan pengalaman personalnya tumbuh di Paşabahçe,
sebuah kota di tepi Selat Bosphorus, Istanbul. Pengalaman hidup di kawasan
selat strategis dunia memberinya pemahaman mendalam tentang dua sisi kehidupan
selat: sebagai ruang hidup yang damai sekaligus wilayah dengan dinamika lalu
lintas laut yang sangat padat dan rentan bahaya. Mengaitkan pengalaman
Bosphorus dengan Selat Malaka, Dr. Özay menyoroti kebiasaan literatur maritim
global yang cenderung repetitif dengan menjuluki selat-selat strategis dunia,
seperti Suez, Panama, Bosphorus, hingga Phillips Channel di Selat Malaka, hanya
sebagai choke points atau jalur transit semata.
"Bagi
ekonom, Selat Malaka mungkin hanya dihitung dari data kapal pembawa minyak, gas
cair, atau komoditas kargo. Namun, bagi ilmu peradaban, Selat Malaka adalah
ekosistem manusia dan alam yang kaya akan dimensi keagamaan, filosofis, serta
kearifan masyarakat adat (indigenous knowledge). Selat Malaka adalah
pusat pertemuan budaya dan peradaban yang dibentuk oleh keberagaman masyarakat
dari masa ke masa," papar Dr. Özay.
Di
tengah era "ultra-globalisasi" yang dipenuhi ketidakpastian politik
dan konflik global—seperti yang terlihat pada dampak perang terhadap rantai
pasok pangan dan energi dunia—Dr. Özay menegaskan bahwa isu
keamanan di Selat Malaka harus dimaknai secara luas. Keamanan
tidak hanya mencakup keselamatan kapal yang melintas, tetapi juga perlindungan
terhadap masyarakat desa di wilayah pesisir, ekosistem laut, hingga hutan hujan
di sekitarnya.
Ia
mengusulkan agar para pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri tidak
terjebak dalam wacana geopolitik berbasis kekuasaan (power-oriented)
yang didorong oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Sebaliknya, pendekatan
berbasis kearifan (wisdom-based approach) dan dimensi intelektual
universal harus diprioritaskan.
Mengutip
karya-karya sejarawan dan pemikir besar, mulai dari Fernand Braudel, Marco
Polo, Tome Pires, Ibn Battuta, Zheng He, hingga pemikir kontemporer seperti
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Tuanku Luckman Sinar, Dr. Özay
menguraikan bagaimana sejarah mencatat kawasan Selat Malaka sebagai ruang
interaksi yang damai.
"Masyarakat Melayu secara historis dan
ontologis memiliki tradisi keterbukaan dan perdamaian. Sebagaimana ditelaah
oleh almarhum Tuanku Luckman Sinar, archetype masyarakat Melayu berakar
pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang senantiasa menyambut kehadiran
'pihak lain' (the others) secara harmonis dan inklusif," jelasnya.
Dr. Özay mencontohkan jejak peradaban seperti
Samudra Pasai yang tumbuh menjadi pusat ilmu pengetahuan dan perdagangan, serta
toleransi berdampingan yang harmonis di pesisir Nusantara sebagai bukti sejarah
bahwa tata kelola di Selat Malaka dibangun atas dasar nilai-nilai kebudayaan
yang konstruktif, bukan destruktif.
Menutup pemaparannya, Dr. Özay merekomendasikan
agar pemerintah dan pemimpin di kawasan Selat Malaka mengadopsi prinsip "surviving
together" (bertahan bersama) dalam menghadapi tantangan zaman.
Mengambil keteladanan dari pemikiran al-Farabi dan al-Ghazali dalam Nasihat
al-Muluk, ia mengingatkan pentingnya kualitas moral dan kemampuan diplomasi
bagi para pemimpin untuk menghindari konflik.
"Di tengah ketidakpastian global,
negara-negara dan masyarakat Melayu di kawasan Selat Malaka dapat memberikan
respons strategis melalui dimensi epistemologis dan filosofis mereka: yaitu
dengan konsisten mengedepankan tindakan damai, menjaga keamanan, serta merawat
ekosistem hidup secara berkelanjutan," pungkas Assoc. Prof. Dr. Mehmet
Özay.
Penyampaian Dr. Mehmet Özay ini memperkaya
landasan akademis bagi Resolusi dan Rekomendasi Kebijakan yang dirumuskan dalam
ICSM 2026, mempertegas komitmen ISMI dalam mengawal kedaulatan, kebudayaan, dan
kesejahteraan kawasan Selat Malaka.
Panitia Pengarah ICSM 2026
/ Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI)
https://guneydoguasyacalismalari.com/tr_tr/menegaskan-selat-malaka/



