30 Haziran 2026 Salı

“Budaya dan adat istiadat: Lensa T.L. Sinar”,

Mehmet Özay – Faisal Riza                                                                                                     25.06.2026 

Opini singkat ini, secara kritis, membahas kontribusi intelektual almarhum Tengku Luckman Sinar (1933-2011). Di sini, kita secara singkat membahas apa yang dipertahankan Sinar dalam usaha dan wacana intelektual pribadinya sepanjang hidupnya. Untuk tujuan itu, minat utama kita adalah dua konsep, yaitu adat dan budaya Melayu, yang diyakini dapat memberikan pemahaman yang cukup logis dan bermakna tentang gagasan-gagasan beliau.

Dalam hal ini, kami menyadari bahwa isu-isu budaya dan adat dalam tulisan Sinar telah dipelajari oleh akademisi dan peneliti lain selama 15 tahun terakhir sejak wafatnya. Dan kita dapat menyebut individu-individu ini sebagai ‘peneliti yang terinspirasi oleh Sinar’. Selain itu, terlepas dari ketulusan kami, kemungkinan ada beberapa kelemahan dalam pemahaman dan interpretasi kami.

Budaya dan adat istiadat, sebagai fenomena sosiologis, sangat penting bagi masyarakat manusia. Dalam hal ini, perlu dikemukakan bahwa kedua komponen ini memainkan peran penting baik dalam ontologi maupun epistemologi. Dengan mengatakan ini, tentu saja kita tidak mengabaikan dimensi agama atau religiusitas. Memang, budaya dan adat istiadat merupakan komponen yang tak terpisahkan dari agama, sebagaimana yang telah diamati secara historis di seluruh Kepulauan Melayu. Namun, dalam makalah interpretatif singkat ini, kami ingin membahas kedua komponen tersebut melalui pemahaman kami tentang pemikiran almarhum Sinar. Pada awalnya, dapat dikatakan bahwa budaya dan adat istiadat menempati tempat yang signifikan dalam tulisan dan pemikiran Sinar.

Tokoh terkemuka

Tengku Luckman Sinar adalah seorang tokoh terkemuka, dibesarkan dalam keluarga kerajaan Serdang. Beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk mempelajari dan menghidupkan kembali budaya dan adat Melayu. Inspirasinya bukan hanya keluarganya sendiri, tetapi juga budaya Melayu secara umum, baik di Sumatera Utara maupun di luar negeri.

Beberapa peneliti, seperti Eldin (2016) menggambarkannya sebagai “pemimpin tradisional komunitas Melayu Sumatera Utara”. Dan ia menghabiskan hidupnya untuk mempelajari, menganalisis, dan merekonstruksi budaya Melayu di Sumatera Utara. Upayanya secara luas dianggap berharga bagi orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, menginspirasi mereka untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Melayu.

Istilah ‘budaya’ dan ‘adat’ yang digunakan di sini harus dipahami secara umum, yaitu mencakup seluruh siklus hidup masyarakat Melayu. Tanpa membahas perbandingan antar masyarakat Melayu, kita akan meneliti langkah-langkah Sinar dan sejauh mana ia mengembangkan gagasan untuk menghidupkan kembali tatanan budaya Melayu. Tidak diragukan lagi, ketertarikannya dimulai di tanah kelahirannya sendiri. Secara bertahap, ketertarikan itu meluas ke wilayah-wilayah terdekat, termasuk masyarakat yang secara historis menetap di sepanjang zona pesisir Selat Malaka dan di Sumatera Utara dan Timur. Kita dapat secara singkat berpendapat bahwa masyarakat yang tidak menganggap diri mereka sebagai ‘Melayu’ secara nama, bagaimanapun, memiliki tatanan budaya yang sama dengan yang dibahas oleh Sinar. Dan usulan Sinar mengenai adat Melayu pada dasarnya bersifat transregional. Dengan kata lain, usulan ini tidak terbatas pada wilayah Sumatera Utara, tetapi menjangkau seluruh dimensi geografis Kepulauan Melayu. Dan memang, beberapa referensi sejarah mendukung argumennya secara netral.

Tidaklah salah jika dikatakan bahwa Sinar bermaksud untuk secara pasti dan bertahap membangun kembali sistem adat. Ia menetapkan standar untuk wacana akademis dan intelektualnya sendiri dan menyebarkan ide-idenya melalui berbagai saluran. Kami berpendapat bahwa Sinar tidak hanya mempelajari tetapi juga secara signifikan menginternalisasi adat Melayu dan tetap menjadi pengamatnya sepanjang hidupnya. Proses ini sendiri sangat penting dan bermakna. Bahkan tanpa melihat hasilnya, apakah ia berhasil atau tidak, proses ini menyaksikan sebuah usaha intelektual. Ia mengoperasionalkan pengetahuan abstraknya dengan mempraktikkan semua pengetahuan yang telah dikumpulkan melalui institusionalisasi yang berbeda, dimulai dari lingkungan keluarganya sendiri.

Pada tahap ini, kami berpendapat bahwa Sinar adalah seorang intelektual yang lebih ‘berorientasi ke dalam’ (inward-looking) daripada ‘berorientasi ke luar’ (outward-looking). Sebagaimana terlihat dalam beberapa sumber, seorang intelektual yang berorientasi ke dalam adalah seorang pemikir yang terutama berfokus pada pengetahuan diri, lanskap mental batin mereka, dan introspeksi mendalam. Dengan kata lain, ia menghasilkan kekuatan melalui sumber budaya dan intelektualnya sendiri. Wacana-wacananya pada dasarnya bersifat reaksioner. Namun, yang ia tekankan adalah kekuatan batinnya terikat pada entitas sosialnya sendiri.

Mungkin ini terasa seperti pernyataan yang sudah pasti, tetapi kita tidak boleh ragu untuk menyatakan di sini bahwa karya-karya Sinar, sebagai refleksi pemikirannya, tampaknya bertujuan untuk membangun organisasi sosial yang, tanpa diragukan lagi, mencakup budaya dan adat istiadat. Upaya retrospektifnya, pada kenyataannya, diperlukan untuk mewujudkan pembangunan kembali ini. Kemungkinan besar proses ini juga berkontribusi pada 'pembangunan kembali pribadi' dirinya sendiri. Di sini saya terpaksa menggunakan atau menyarankan konsep Jerman "bildung". Artinya, tahapan-tahapan berurutan dalam kehidupan seseorang membantu pertumbuhan kematangan intelektual individu dan, dalam arti itu, kedewasaan.

Dalam hal ini, jelas bahwa Sinar juga mengajak masyarakatnya sendiri menuju kemajuan intelektual ini melalui tindakan, organisasi, dan gagasan yang ia gagas atau yang ia sumbangkan secara konstruktif. Dan upayanya, dalam konteks sosial-budaya, berfungsi untuk menciptakan stabilitas, yang kemudian terganggu oleh berbagai gangguan sosial. Dan itu adalah proses transformasi yang lambat namun pada dasarnya dinamis. Ada juga anggapan bahwa tangan yang tak terlihat berperan dalam persiapan Sinar untuk jabatannya di masa depan. Ia meningkatkan reputasi Melayu sebagai inovator di Sumatera Utara dan memperluasnya melampaui batas-batas budaya Melayu. Usahanya dalam bidang budaya dan adat istiadat merupakan penyempurnaan dari hal tersebut, yang dibentuk oleh berbagai pengaruh dan persaingan. Namun demikian, apakah masyarakat Melayu menyadarinya atau tidak, itu adalah masalah lain.

Pembangun sistem dan keadilan budaya

Sinar adalah seorang pembangun (bukan dekonstruktor), seorang pembangun system (system builder), seorang yang teguh percaya pada budaya dan adat istiadat. Ia berpikiran terbuka dalam memahami sistem di luar konteks Melayu, dan ia meneliti komunitas lain di Sumatera Utara, seperti yang dinyatakan oleh Edy Ichsan (2016). Ia menyadari nilai-nilai ontologis dan epistemologis mereka. Ia tidak mewakili kecanggihan intelektual (intellectual sophistication) tetapi dengan tulus optimis tentang komitmen intelektualnya. Dan di sini kami menyarankan beberapa konsep untuk menggambarkan karya, ide, dan tujuan ambisiusnya. Konsep-konsep tersebut adalah “sosialisasi budaya” (cultural socialization) dan “keadilan budaya” (cultural justice). Mungkin, saya akan menambahkan beberapa konsep lagi selama pembacaan saya.

Terlihat bahwa Sinar menggunakan kedua konsep tersebut secara bersamaan. Misalnya, dalam salah satu tulisannya yang terbaru (2005), ia menyatakan “… Adat dan budaya yang kita miliki saat ini telah ditambah, dimodifikasi, dan diuji selama ratusan tahun”. Dalam konteks ini, patut dikemukakan bahwa ketekunan Sinar dalam studi budaya sangat jelas. Dan ia membuktikannya sepanjang karya dan aktivitasnya. Karya intelektual dan akademiknya mencakup periode dari awal tahun 1950-an hingga ia meninggal pada tahun 2011. Upayanya mengarah pada perkembangan pemikiran budaya Melayu. Upaya Sinar sangat penting karena, untuk waktu yang lama, terjadi interaksi antara budaya Melayu—komponen-komponennya, sumber-sumber nyatanya, dan lain-lain—dengan berbagai faktor yang muncul dalam lingkungan sosialnya melalui pengaruh eksternal.

https://epaper.waspada.co.id/reader/157

Waspada, 25 June 2026 (Kamis), Opini, B2.

https://guneydoguasyacalismalari.com/tr_tr/budaya-dan-adat-istiadat-lensa-t-l-sinar/

Hiç yorum yok:

Yorum Gönder