Mehmet Özay – Faisal Riza 25.06.2026
Dalam hal ini, kami menyadari bahwa isu-isu budaya dan
adat dalam tulisan Sinar telah dipelajari oleh akademisi dan peneliti lain
selama 15 tahun terakhir sejak wafatnya. Dan kita dapat menyebut
individu-individu ini sebagai ‘peneliti yang terinspirasi oleh Sinar’. Selain
itu, terlepas dari ketulusan kami, kemungkinan ada beberapa kelemahan dalam
pemahaman dan interpretasi kami.
Budaya dan adat istiadat, sebagai fenomena sosiologis,
sangat penting bagi masyarakat manusia. Dalam hal ini, perlu dikemukakan bahwa
kedua komponen ini memainkan peran penting baik dalam ontologi maupun
epistemologi. Dengan mengatakan ini, tentu saja kita tidak mengabaikan dimensi
agama atau religiusitas. Memang, budaya dan adat istiadat merupakan komponen
yang tak terpisahkan dari agama, sebagaimana yang telah diamati secara historis
di seluruh Kepulauan Melayu. Namun, dalam makalah interpretatif singkat ini,
kami ingin membahas kedua komponen tersebut melalui pemahaman kami tentang
pemikiran almarhum Sinar. Pada awalnya, dapat dikatakan bahwa budaya dan adat
istiadat menempati tempat yang signifikan dalam tulisan dan pemikiran Sinar.
Tokoh terkemuka
Tengku Luckman Sinar adalah seorang tokoh terkemuka,
dibesarkan dalam keluarga kerajaan Serdang. Beliau mengabdikan seluruh hidupnya
untuk mempelajari dan menghidupkan kembali budaya dan adat Melayu. Inspirasinya
bukan hanya keluarganya sendiri, tetapi juga budaya Melayu secara umum, baik di
Sumatera Utara maupun di luar negeri.
Beberapa peneliti, seperti Eldin (2016) menggambarkannya
sebagai “pemimpin tradisional komunitas Melayu Sumatera Utara”. Dan ia
menghabiskan hidupnya untuk mempelajari, menganalisis, dan merekonstruksi
budaya Melayu di Sumatera Utara. Upayanya secara luas dianggap berharga bagi
orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, menginspirasi mereka untuk
menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Melayu.
Istilah ‘budaya’ dan ‘adat’ yang digunakan di sini harus
dipahami secara umum, yaitu mencakup seluruh siklus hidup masyarakat Melayu. Tanpa
membahas perbandingan antar masyarakat Melayu, kita akan meneliti
langkah-langkah Sinar dan sejauh mana ia mengembangkan gagasan untuk
menghidupkan kembali tatanan budaya Melayu. Tidak diragukan lagi,
ketertarikannya dimulai di tanah kelahirannya sendiri. Secara bertahap,
ketertarikan itu meluas ke wilayah-wilayah terdekat, termasuk masyarakat yang
secara historis menetap di sepanjang zona pesisir Selat Malaka dan di Sumatera
Utara dan Timur. Kita dapat secara singkat berpendapat bahwa masyarakat yang
tidak menganggap diri mereka sebagai ‘Melayu’ secara nama, bagaimanapun,
memiliki tatanan budaya yang sama dengan yang dibahas oleh Sinar. Dan
usulan Sinar mengenai adat Melayu pada dasarnya bersifat transregional. Dengan
kata lain, usulan ini tidak terbatas pada wilayah Sumatera Utara, tetapi
menjangkau seluruh dimensi geografis Kepulauan Melayu. Dan memang, beberapa
referensi sejarah mendukung argumennya secara netral.
Tidaklah
salah jika dikatakan bahwa Sinar bermaksud untuk secara pasti dan bertahap
membangun kembali sistem adat. Ia menetapkan standar untuk wacana akademis dan
intelektualnya sendiri dan menyebarkan ide-idenya melalui berbagai saluran. Kami
berpendapat bahwa Sinar tidak hanya mempelajari tetapi juga secara signifikan
menginternalisasi adat Melayu dan tetap menjadi pengamatnya sepanjang hidupnya.
Proses ini sendiri sangat penting dan bermakna. Bahkan tanpa melihat hasilnya,
apakah ia berhasil atau tidak, proses ini menyaksikan sebuah usaha intelektual.
Ia mengoperasionalkan pengetahuan abstraknya dengan mempraktikkan semua
pengetahuan yang telah dikumpulkan melalui institusionalisasi yang berbeda,
dimulai dari lingkungan keluarganya sendiri.
Pada tahap ini, kami berpendapat bahwa Sinar adalah
seorang intelektual yang lebih ‘berorientasi ke dalam’ (inward-looking) daripada
‘berorientasi ke luar’ (outward-looking). Sebagaimana terlihat dalam
beberapa sumber, seorang intelektual yang berorientasi ke dalam adalah seorang
pemikir yang terutama berfokus pada pengetahuan diri, lanskap mental batin
mereka, dan introspeksi mendalam. Dengan kata
lain, ia menghasilkan kekuatan melalui sumber budaya dan intelektualnya
sendiri. Wacana-wacananya pada dasarnya bersifat reaksioner. Namun, yang ia
tekankan adalah kekuatan batinnya terikat pada entitas sosialnya sendiri.
Mungkin ini terasa seperti pernyataan yang sudah pasti,
tetapi kita tidak boleh ragu untuk menyatakan di sini bahwa karya-karya Sinar,
sebagai refleksi pemikirannya, tampaknya bertujuan untuk membangun organisasi
sosial yang, tanpa diragukan lagi, mencakup budaya dan adat istiadat. Upaya
retrospektifnya, pada kenyataannya, diperlukan untuk mewujudkan pembangunan
kembali ini. Kemungkinan besar proses ini juga berkontribusi pada 'pembangunan
kembali pribadi' dirinya sendiri. Di sini saya terpaksa menggunakan atau
menyarankan konsep Jerman "bildung". Artinya, tahapan-tahapan
berurutan dalam kehidupan seseorang membantu pertumbuhan kematangan intelektual
individu dan, dalam arti itu, kedewasaan.
Dalam hal ini, jelas bahwa Sinar juga mengajak
masyarakatnya sendiri menuju kemajuan intelektual ini melalui tindakan,
organisasi, dan gagasan yang ia gagas atau yang ia sumbangkan secara
konstruktif. Dan upayanya, dalam konteks sosial-budaya, berfungsi untuk
menciptakan stabilitas, yang kemudian terganggu oleh berbagai gangguan sosial.
Dan itu adalah proses transformasi yang lambat namun pada dasarnya dinamis. Ada
juga anggapan bahwa tangan yang tak terlihat berperan dalam persiapan Sinar
untuk jabatannya di masa depan. Ia meningkatkan reputasi Melayu sebagai
inovator di Sumatera Utara dan memperluasnya melampaui batas-batas budaya
Melayu. Usahanya dalam bidang budaya dan adat istiadat merupakan penyempurnaan
dari hal tersebut, yang dibentuk oleh berbagai pengaruh dan persaingan. Namun
demikian, apakah masyarakat Melayu menyadarinya atau tidak, itu adalah masalah
lain.
Pembangun sistem dan keadilan budaya
Sinar adalah seorang pembangun (bukan dekonstruktor),
seorang pembangun system (system builder), seorang yang teguh percaya pada
budaya dan adat istiadat. Ia berpikiran terbuka dalam memahami sistem di luar
konteks Melayu, dan ia meneliti komunitas lain di Sumatera Utara, seperti yang
dinyatakan oleh Edy Ichsan (2016). Ia menyadari nilai-nilai ontologis dan
epistemologis mereka. Ia tidak mewakili kecanggihan intelektual (intellectual
sophistication) tetapi dengan tulus optimis tentang komitmen intelektualnya.
Dan di sini kami menyarankan beberapa konsep untuk menggambarkan karya, ide,
dan tujuan ambisiusnya. Konsep-konsep tersebut adalah “sosialisasi
budaya” (cultural socialization) dan “keadilan budaya” (cultural
justice). Mungkin, saya akan menambahkan
beberapa konsep lagi selama pembacaan saya.
Terlihat bahwa Sinar menggunakan kedua konsep tersebut
secara bersamaan. Misalnya, dalam salah satu tulisannya yang terbaru (2005), ia
menyatakan “… Adat dan budaya yang kita miliki saat ini telah ditambah,
dimodifikasi, dan diuji selama ratusan tahun”. Dalam konteks ini, patut
dikemukakan bahwa ketekunan Sinar dalam studi budaya sangat jelas. Dan ia
membuktikannya sepanjang karya dan aktivitasnya. Karya intelektual dan
akademiknya mencakup periode dari awal tahun 1950-an hingga ia meninggal pada
tahun 2011. Upayanya mengarah pada perkembangan pemikiran budaya Melayu. Upaya
Sinar sangat penting karena, untuk waktu yang lama, terjadi interaksi antara
budaya Melayu—komponen-komponennya, sumber-sumber nyatanya, dan
lain-lain—dengan berbagai faktor yang muncul dalam lingkungan sosialnya melalui
pengaruh eksternal.
https://epaper.waspada.co.id/reader/157
Waspada, 25 June 2026 (Kamis), Opini, B2.
https://guneydoguasyacalismalari.com/tr_tr/budaya-dan-adat-istiadat-lensa-t-l-sinar/

Hiç yorum yok:
Yorum Gönder